Garis-Lintas. Kaur, Bengkulu – PDI Perjuangan menggelar peringatan Bulan Bung Karno tahun 2025 di Kabupaten Kaur, Bengkulu, Selasa (24/6/2025). Acara ini mengusung tema besar “Setialah Kepada Sumbermu” dan menyoroti pentingnya semangat rakyat serta pendidikan sebagai fondasi kebangsaan. Kegiatan dipusatkan pada pemberian beasiswa kepada lebih dari 20.000 siswa se-Provinsi Bengkulu yang diserahkan secara simbolis kepada 300 orang tua murid.
Dalam suasana nasionalis yang kental, peringatan dibuka dengan tarian budaya berjudul “Fatmawati, Sang Penjahit Sang Saka Merah Putih”. Tarian ini menjadi bentuk penghormatan kepada Ibu Fatmawati, tokoh asal Bengkulu yang menjahit bendera Merah Putih pertama kali menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.
“Bengkulu dipilih karena memiliki kedekatan historis dengan Bung Karno, dan terutama Ibu Fatmawati, simbol perempuan pejuang bangsa,” ujar Esti Wijayati, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kehutanan dan Lingkungan Hidup yang juga menjabat Wakil Ketua Komisi X DPR RI.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, seperti Ir. Rudianto Tjen (Wakil Bendahara DPP PDI Perjuangan), Hj. Yuke Yurike, S.T., M.M. (Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta), serta pejabat daerah seperti Wakil Gubernur Bengkulu Ir. Mian dan Wakil Bupati Kaur Abdul Hamid S.Pd.I. Hadir pula Anggota DPR RI Dapil Bengkulu, Eko Kurnia Ningsih.
Penyerahan beasiswa disambut antusias oleh warga. “Kami sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan kepada anak-anak kami. Ini sangat membantu,” ungkap Sri Wahyuni, salah satu orang tua siswa penerima bantuan.
PDI Perjuangan berharap kegiatan ini menjadi titik awal perbaikan pendidikan di Bengkulu. “Ini bukan sekadar seremoni, tapi bentuk nyata komitmen kami terhadap cita-cita Bung Karno dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” tegas Rudianto Tjen di hadapan peserta yang memadati lokasi acara.
Fatmawati Soekarno, yang lahir di Bengkulu pada tahun 1923, dikenal sebagai sosok yang bersahaja namun penuh dedikasi terhadap perjuangan bangsa. Mesin jahit tangan yang digunakannya untuk menjahit bendera pusaka kini menjadi simbol keteguhan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Ibu Fatmawati dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000 pada 4 November 2000. Nama beliau tidak hanya dikenang di Bengkulu, tetapi juga menjadi inspirasi nasional, terutama dalam peran perempuan di panggung sejarah Indonesia.
Menurut Esti Wijayati, semangat Bung Karno dan Ibu Fatmawati menjadi warisan ideologis yang harus diteruskan melalui program-program nyata. “Generasi muda harus dikenalkan pada sejarah bangsanya. Pendidikan adalah jalan utama untuk membentuk karakter dan kecintaan terhadap Indonesia,” ujarnya.
Acara ini juga menjadi ajang konsolidasi internal PDI Perjuangan di Bengkulu. Para pengurus dari tingkat DPC, PAC, hingga ranting turut hadir menunjukkan komitmen terhadap kegiatan kerakyatan yang menjadi ciri khas partai berlambang banteng tersebut.
Selain beasiswa, PDI Perjuangan juga menggagas program literasi budaya lokal sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai daerah. Bengkulu dinilai memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang perlu terus digali dan dipromosikan melalui pendekatan edukatif.
Wakil Gubernur Bengkulu, Ir. Mian, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif PDI Perjuangan. “Kami berharap sinergi antara pemerintah dan partai politik seperti ini bisa terus berjalan untuk mempercepat pembangunan di daerah, khususnya sektor pendidikan dan sejarah kebangsaan,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan pembacaan ikrar kebangsaan oleh seluruh peserta sebagai simbol kesetiaan terhadap nilai-nilai Pancasila dan perjuangan para pendiri bangsa. Semangat Bung Karno tetap hidup di tengah masyarakat, melalui aksi nyata yang membawa perubahan, terutama bagi generasi penerus bangsa.
(DS)














